scispace - formally typeset
Search or ask a question
Author

Syahriadi K

Bio: Syahriadi K is an academic researcher. The author has contributed to research in topics: Biology & Animal science. The author has co-authored 2 publications.

Papers
More filters
Journal ArticleDOI
05 Dec 2022
TL;DR: In this article , aplikasi ekstrak daun kelor sebagai imunostimulan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penambahan dosis ekstrategi daun-kelor dalam media pemeliharaan terhadap respon imun non spesifik post larva udang vaname, serta menentukan dosis optimal ying memberikan responimun non-spreifik ying terbaik.
Abstract: Udang vaname (Litopeneaus vannamei, Boone 1931) merupakan organisme yang hanya memiliki sistem imun non spesifik untuk mempertahankan diri dari pathogen, sehingga rentan terserang penyakit. Daun kelor (Moringa oleifera Lam) mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, fenol dan saponin. Flavonoid memiliki peran sebagai antioksidan dan menghentikan reaksi berantai radikal bebas, sedangkan saponin berfungsi sebagai agen imunostimulan. Aplikasi ekstrak daun kelor sebagai imunostimulan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penambahan dosis ekstrak daun kelor dalam media pemeliharaan terhadap respon imun non spesifik post larva udang vaname, serta menentukan dosis optimal yang memberikan respon imun non spesifik yang terbaik. Desain penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan. Keempat perlakuan yaitu A (0 mg ekstrak daun kelor/L air media), B (40 mg ekstrak daun kelor/L air media), C (50 mg ekstrak daun kelor/L air media), dan D (60 mg ekstrak daun kelor/L air media). Parameter yang diamati adalah Total Haemocyte Count (THC), aktifitas fagositosis, pertumbuhan mutlak dan kelangsungan hidup post larva udang vaname. Data dianalisis menggunakan analisis varian (Anova). Jika hasilnya berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan Uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan dosis ekstrak daun kelor berpengaruh nyata terhadap Total Haemocyte Count (THC), aktifitas fagositosis, pertumbuhan mutlak dan kelangsungan hidup post larva udang vaname, dengan dosis terbaik 60 mg ekstrak daun kelor/L air media.
Journal ArticleDOI
TL;DR: Penelitian pemberian pakan yang diperkaya tepung spirulina sebagai sumber karotenoid pada juvenil koi (Cyprinus carpio) bertujuan untuk mengetahui pengaruh pakakan tersebut terhadap tingkat kecerahan warna, pertumbuhan, and sintasan juvenIL koi serta nilai finansial dari penambahan tersebo as discussed by the authors .
Abstract: Penelitian pemberian pakan yang diperkaya tepung spirulina sebagai sumber karotenoid pada juvenil koi (Cyprinus carpio) bertujuan untuk mengetahui pengaruh pakan tersebut terhadap tingkat kecerahan warna, pertumbuhan dan sintasan juvenil koi serta nilai finansial dari penambahan tersebut. Desain penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan (A= pellet; B = pellet + tepung spirulina 10%; C = pellet + tepung spirulina 20%; dan D = pellet + tepung spirulina 30%) dengan masing-masing 3 ulangan. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa tingkat kecerahan warna juvenil koi pada perlakuan B, C dan D berbeda nyata dengan perlakuan A (P< 0,05). Persentase jumlah juvenil skor 3 tertinggi yang didapatkan berturut-turut yaitu perlakuan D sebesar 32,68%, perlakuan C sebesar 31,90%, perlakuan B sebesar 29,22% dan perlakuan D sebesar 19,40%. Laju pertumbuhan dan sintasan juvenil koi juga menunjukkan perbedaan yang nyata antara perlakuan B, C, dan D dengan perlakuan A. Laju pertumbuhan terbaik didapatkan pada perlakuan D dan C yaitu 9,576 % dan 9,318 % per minggu, dan sintasan tertinggi didapatkan pada perlakuan C dan D yaitu 95 % dan 90 %. Kesimpulan yang didapatkan bahwa pemberian pakan yang diperkaya tepung spirulina sebagai sumber karotenoid nyata meningkatkan kecerahan warna, laju pertumbuhan dan sintasan juvenil koi. Analisis finansial terhadap beban biaya perekor juvenil koi makin meningkat dengan peningkatan dosis spirulina, namun tidak seiring dengan pertambahan jumlah juvenil skor 3, sehingga penambahan spirulina melebihi dosis 10 persen dalam pakan tidak direkomendasikan.