scispace - formally typeset

Journal ArticleDOI

Interaksi pbl-murder, minat penjurusan, dan kemampuan dasar matematis terhadap pencapaian kemampuan berpikir dan disposisi kritis

28 Jan 2016-Vol. 2, Iss: 1, pp 1-20

AbstractSelection of appropriate learning approaches and strategies, will facilitate the achievement of these learning activities. Similarly, in mathematics learning activities in PGSD (department of elementary school preservice teacher), which is demanding the development of a high level of mathematical ability as well as critical thinking skills. However, not many people are trying to look for other factors in addition to the approach/learning strategy, which is possible to contribute to the development of critical thinking skills, such as interest factor majors students (IPA [science] and non-IPA [non-science]) as well as mathematical prior knowledge which has been owned previously. In addition, affective aspects that accompany any critical thinking skills (critical disposition) is a study that is still rare. This paper briefly present to peel the election factor of approaches and learning strategies, ie, problem based learning with "MURDER" strategy, shared interests and their interaction majors and mathematical prior knowledge of the result of performance of critical thinking skills and dispositions of PGSD students. Keywords : problem-based learning, the "MURDER" strategy, mathematical prior knowledge, critical thinking skills, critical thinking disposition.

Topics: Active learning (61%), Study skills (59%), Mathematical ability (57%)

Summary (1 min read)

Jump to: [Introduction] and [SIMPULAN]

Introduction

  • [1] Selection of appropriate learning approaches and strategies will facilitate the achievement of these learning activities.
  • Not many people are trying to look for other factors in addition to the approach/learning strategy, which is possible to contribute to the development of critical thinking abilities, such as students’ major interest factor (IPA [science] and non-IPA [non-science]) as well as mathematical prior knowledge which has been owned previously.
  • Hal senada juga diungkapkan oleh Abdi (2004), bahwa sebagian peserta didik merasakan kesulitan dalam menyerap dan memahami pelajaran matematika, tetapi sulitnya memahami pelajaran matematika yang diajarkan itu diperkirakan berkaitan dengan cara mengajar guru di kelas yang tidak membuat peserta didik merasa senang dan simpatik terhadap matematika, pendekatan yang dilakukan guru matematika pada umumnya kurang bervariasi.
  • Bersandar pada alasan yang dikemukakan di atas, jelaslah bahwa kemampuan berpikir kritis peserta didik sangat penting untuk dikembangkan.
  • Melalui pembelajaran berbasis masalah berstrategi “MURDER” ini, diharapkan peserta didik (mahasiswa PGSD) dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan disposisi matematisnya.

SIMPULAN

  • Beberapa simpulan dapat ditarik dari hasil pembahasan di atas.
  • Ketiga, dengan pendekatan atau strategi pembelajaran yang sama tetapi berbeda dalam penggunaan bahan ajarnya, akan memberikan dampak berbeda pada pencapaian disposisi kritis peserta didik.
  • Terakhir, interaksi antara pendekatan pembelajaran, kemampuan dasar matematis, dan minat penjurusan mahasiswa, ternyata tidak memiliki pengaruh gabungan terhadap besarnya perbedaan rata-rata pencapaian kemampuan berpikir dan disposisi kritis mahasiswa PGSD.
  • Kedua, pembahasan kali ini hanya dilakukan pada data hasil tes akhir kemampuan berpikir kritis matematis dan skala disposisi akhir saja, tanpa melibatkan hasil perhitungan kemampuan berpikir kritis awal, disposisi kritis awal, serta normalized gain untuk mengukur seberapa tinggi peningkatannya.

Did you find this useful? Give us your feedback

...read more

Content maybe subject to copyright    Report

[1]
p-ISSN 2355-5343
http://ejournal.upi.edu/index.php/mimbar
Article Received: 08/12/2014; Accepted: 27/02/2015
Mimbar Sekolah Dasar, Vol 2(1) 2015, 1-20
DOI: 10.17509/mimbar-sd.v2i1.1318
INTERAKSI PBL-MURDER, MINAT PENJURUSAN, DAN KEMAMPUAN
DASAR MATEMATIS TERHADAP PENCAPAIAN KEMAMPUAN BERPIKIR
DAN DISPOSISI KRITIS
Maulana
PGSD Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Sumedang
Jalan Mayor Abdurrahman No. 211 Sumedang 45322
Email: maulana@upi.edu
ABSTRACT
ABSTRAK
Selection of appropriate learning approaches
and strategies will facilitate the achievement of
these learning activities. Similarly, in mathematics
learning activities in PGSD (department of
preservice elementary school teacher), which is
demanding the development of a high level of
mathematical ability as well as critical thinking
skills. However, not many people are trying to
look for other factors in addition to the
approach/learning strategy, which is possible to
contribute to the development of critical thinking
abilities, such as students’ major interest factor
(IPA [science] and non-IPA [non-science]) as well
as mathematical prior knowledge which has
been owned previously. In addition, affective
aspects that accompany any critical thinking
abilities (called critical thinking disposition) is a
study that is still rare. This paper briefly present to
peel the election factor of approaches and
learning strategies, ie., problem-based learning
with "MURDER" strategy, shared interests and their
interaction majors and mathematical prior
knowledge of the result of performance of
critical thinking skills and dispositions of PGSD
students.
Keywords: problem-based learning, the
"MURDER" strategy, the interest of majors,
mathematical prior knowledge, critical thinking
skills, critical thinking disposition.
Pemilihan pendekatan dan strategi yang tepat,
tentu akan memudahkan tercapainya tujuan
kegiatan pembelajaran tersebut. Begitu pula
dalam kegiatan pembelajaran matematika di
PGSD, yang memang menuntut pengembangan
kemampuan matematis tingkat tinggi seperti
halnya kemampuan berpikir kritis. Akan tetapi,
tidak banyak orang yang mencoba melihat
adanya faktor lain di samping
pendekatan/strategi pembelajaran, yang
dimungkinkan ikut berkontribusi dalam
pengembangan kemampuan berpikir kritis
tersebut, misalnya saja faktor minat penjurusan
mahasiswa (IPA dan Non-IPA) serta kemampuan
dasar matematis yang telah dimiliki sebelumnya.
Selain itu, aspek afektif yang mengiringi
kemampuan berpikir kritis pun (disposisi kritis)
merupakan kajian yang masih jarang ditemui.
Tulisan ini hadir untuk mengupas secara singkat
mengenai faktor pemilihan jenis pendekatan
dan strategi pembelajaran, yakni problem-based
learning berstrategi “MURDER” dan interaksinya
bersama minat penjurusan serta kemampuan
dasar matematis terhadap hasil capaian
kemampuan berpikir dan disposisi kritis
matematis mahasiswa PGSD.
Kata kunci: problem-based learning, strategi
“MURDER”, minat penjurusan, kemampuan dasar
matematis, kemampuan berpikir kritis matematis,
disposisi berpikir kritis matematis.
How to Cite: Maulana, M. (2015). INTERAKSI PBL-MURDER, MINAT PENJURUSAN, DAN KEMAMPUAN DASAR MATEMATIS
TERHADAP PENCAPAIAN KEMAMPUAN BERPIKIR DAN DISPOSISI KRITIS. Mimbar Sekolah Dasar, 2(1), 1-20.
doi:http://dx.doi.org/10.17509/mimbar-sd.v2i1.1318.
PENDAHULUAN ~ Isu aktual dalam
pembelajaran matematika saat ini adalah
bagaimana upaya mengembangkan
kemampuan berpikir tingkat tinggi (high
order thinking skillsHOTS), serta
menjadikannya sebagai tujuan penting
yang harus dicapai dalam pembelajaran
matematika. Kemampuan berpikir
matematis tingkat tinggi bersifat non-
algoritmik, kompleks, melibatkan

Maulana, Interaksi PBL-MURDER, Minat Penjurusan, dan Kemampuan Dasar Matematis
[2]
kemandirian dalam berpikir, seringkali
melibatkan suatu ketidakpastian sehingga
membutuhkan pertimbangan dan
interpretasi, melibatkan kriteria yang
beragam dan terkadang memicu
timbulnya konflik, menghasilkan solusi yang
terbuka, juga membutuhkan upaya yang
sungguh-sungguh dalam melakukannya
(Resnick, 1987; Arends, 2004).
Sehubungan dengan kegiatan berpikir
matematis tingkat tinggi, Schoenfeld
(1992) membaginya menjadi beberapa
hal yang meliputi: mencari dan
mengeksplorasi pola, memahami struktur
dan hubungan-hubungan matematis,
menggunakan data, merumuskan dan
memecahkan masalah, bernalar analogis,
melakukan estimasi, menyusun alasan
yang rasional, menggeneralisasi,
mengomunikasikan ide-ide matematis,
serta bagaimana memeriksa kebenaran
suatu jawaban.
Salah satu kemampuan berpikir yang
termasuk ke dalam kemampuan berpikir
tingkat tinggi adalah kemampuan berpikir
kritis. Ada empat desakan mengenai
perlunya dibiasakan mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, yakni: (1)
tuntutan zaman yang menghendaki
warga negara dapat mencari, memilih,
dan menggunakan informasi untuk
kehidupan bermasyarakat dan
bernegara, (2) setiap warga negara
senantiasa berhadapan dengan berbagai
masalah dan pilihan sehingga dituntut
mampu berpikir kritis dan kreatif, (3)
kemampuan memandang sesuatu
dengan cara yang berbeda dalam
memecahkan masalah, dan (4) berpikir
kritis merupakan aspek dalam
memecahkan permasalahan secara
kreatif agar peserta didik dapat bersaing
secara adil dan mampu bekerja sama
dengan bangsa lain (Wahab, 1996;
Maulana, 2007).
Berpikir kritis merupakan suatu proses yang
berujung pada pembuatan kesimpulan
atau keputusan yang logis tentang apa
yang harus diyakini dan tindakan apa
yang harus dilakukan. Berpikir kritis bukan
hanya untuk mencari jawaban saja,
melainkan lebih penting untuk
menanyakan kebenaran jawaban, fakta,
atau informasi yang ada, sehingga bisa
ditemukan alternatif solusi yang terbaik
(Ennis, 2000). Kemampuan berpikir kritis
tentunya dapat dikembangkan melalui
pembelajaran matematika di sekolah
ataupun perguruan tinggi, yang
menitikberatkan pada sistem, struktur,
konsep, prinsip, serta kaitan yang ketat
antara suatu unsur dan unsur lainnya.
Matematika dengan hakikatnya sebagai
ilmu yang terstruktur dan sistematis,
sebagai suatu kegiatan manusia melalui
proses yang aktif, dinamis, dan generatif,
serta sebagai ilmu yang mengembangkan
sikap berpikir kritis, objektif, dan terbuka,
menjadi sangat penting dikuasai oleh
peserta didik dalam menghadapi laju
perubahan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang begitu pesat.

Mimbar Sekolah Dasar, Volume 2 Nomor 1 April 2015
[3]
Kenyataannya, seperti yang diungkapkan
oleh Maier (1985) dan Begle (dalam
Darhim, 2004), tidak dapat dimungkiri
bahwa anggapan yang saat ini
berkembang pada sebagian peserta didik
adalah matematika merupakan bidang
studi yang sulit dan tidak disenangi, hanya
sedikit yang mampu menyelami dan
memahami matematika sebagai ilmu
yang dapat melatih kemampuan berpikir
kritis. Padahal, mereka sendiri tahu bahwa
matematika itu penting bagi
kehidupannya. Selain anggapan buruk
peserta didik terhadap matematika,
Slettenhaar (2000) berpendapat pula
bahwa pada model pembelajaran
sekarang ini, secara umum aktivitas
peserta didik hanya mendengar dan
menonton pengajarnya melakukan
kegiatan matematis, lalu pengajar itu
menyelesaikan masalah dengan satu
solusi, diakhiri pemberian soal latihan untuk
diselesaikan sendiri oleh peserta didik.
Kegiatan pembelajaran seperti itu,
menurut Rif’at (2001) disebut sebagai rote
learning, yakni kegiatan belajar yang
hanya membuat peserta didik cenderung
menghafal dan tanpa memahami atau
tanpa mengerti apa yang diajarkan,
sementara si pengajar sering tidak
menyadarinya. Hal senada juga
diungkapkan oleh Abdi (2004), bahwa
sebagian peserta didik merasakan
kesulitan dalam menyerap dan
memahami pelajaran matematika, tetapi
sulitnya memahami pelajaran matematika
yang diajarkan itu diperkirakan berkaitan
dengan cara mengajar guru di kelas yang
tidak membuat peserta didik merasa
senang dan simpatik terhadap
matematika, pendekatan yang dilakukan
guru matematika pada umumnya kurang
bervariasi.
Jenning & Dunne (1998) mengatakan
bahwa kebanyakan peserta didik
mengalami kesulitan dalam
mengaplikasikan matematika dalam
kehidupan sehari-harinya, karena pada
pembelajaran matematika, dunia nyata
hanya dijadikan tempat mengaplikasikan
konsep. Hal lain yang menyebabkan
sulitnya matematika bagi peserta didik
adalah karena pembelajaran matematika
dirasakan kurang bermakna. Guru dalam
pembelajarannya di kelas tidak
mengaitkan dengan pengetahuan
sebelumnya (prior-knowledge) yang telah
dimiliki oleh peserta didik dan mereka
kurang diberikan kesempatan untuk
menemukan kembali (reinvention) dan
mengkonstruksi sendiri ide-ide matematika.
Wahyudin (1999) mengatakan bahwa
salah satu penyebab peserta didik lemah
dalam matematika adalah kurang
memiliki kemampuan untuk memahami
(pemahaman), untuk mengenali konsep-
konsep dasar matematika yang berkaitan
dengan pokok bahasan yang sedang
dibicarakan.
Bersandar pada alasan yang
dikemukakan di atas, jelaslah bahwa
kemampuan berpikir kritis peserta didik
sangat penting untuk dikembangkan.
Oleh karena itu, guru atau dosen

Maulana, Interaksi PBL-MURDER, Minat Penjurusan, dan Kemampuan Dasar Matematis
[4]
hendaknya mengkaji dan memperbaiki
kembali praktik-praktik pengajaran yang
selama ini dilaksanakan, yang mungkin
hanya sekadar rutinitas belaka.
Memang benar bahwa saat ini
pembelajaran matematika sudah cukup
banyak yang menekankan pada
pendekatan yang berorientasi perubahan
dan mengenalkan pentingnya pelibatan
peserta didik dalam memanfaatkan
matematika melalui suatu proses aktif.
Dalam proses pembelajaran matematika,
sudah cukup banyak guru/dosen yang
menciptakan situasi dan kondisi yang
memungkinkan peserta didiknya (siswa/
mahasiswa) untuk mengembangkan
kemampuan berpikir kritis matematis
(Gokhale (1995), Oleinik (2002), Mǎrcu
(2005), Jacob & Sam (2007), Aizikovitsh &
Amit (2009).
Beberapa studi mengenai disposisi berpikir
kritis, pernah juga dilakukan oleh Leader &
Middleton (2004), Yesildere & Turnuklu
(2006), serta Aizikovitsh & Amit (2010) yang
mengungkap indikator disposisi berpikir
kritis di antaranya: (1) pencarian
kebenaran, dengan menunjukkan
fleksibilitas dalam mempertimbangkan
beragam alternatif dan pendapat; (2)
keterbukaan pikiran, yang menunjukkan
pemahaman dan rasa menghargai
pendapat orang lain; (3) analitisitas,
dengan menunjukkan
kegigihan/ketabahan saat menghadapi
kesulitan; (4) sistematisitas, dengan
menunjukkan sikap rajin/tekun dalam
melakukan pencarian informasi yang
relevan, (5) kepercayaan diri, yang
mengacu pada rasa percaya diri siswa
atas kemampuannya sendiri untuk
memberikan alasan/penalaran; (6) rasa
ingin tahu, dengan menunjukkan
bagaimana siswa yang bersangkutan
memiliki perhatian untuk terus peka
terhadap informasi (well-informed); (7)
kedewasaan, dengan menunjukkan
kehati-hatian dalam membuat atau
mengubah keputusan.
Terlepas dari masalah itu, semua kajian
mengenai kemampuan berpikir dan
disposisi kritis yang sudah dilakukan di
jenjang sekolah menengah dan
perguruan tinggi, belum menunjukkan
bagaimana keberhasilan kemampuan
berpikir kritis, kreatif, dan investigatif pada
mahasiswa calon guru sekolah dasar
(mahasiswa PGSD). Jika kemampuan
berpikir kritis, kreatif, dan investigatif para
mahasiswa calon guru SD tidak
dikembangkan selama mengenyam
pendidikan kesarjanaannya, maka bukan
mustahil setelah mereka lulus dan menjadi
guru SD, mereka kesulitan pula untuk
mengembangkan kemampuan berpikir
dan disposisi kritis siswanya. Padahal,
mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah
Dasar (PGSD) adalah mahasiswa yang
disiapkan untuk menjadi guru kelas yang
profesional di SD, yang seharusnya
mampu menumbuhkembangkan
kemampuan berpikir dan disposisi kritis
siswanya seperti yang diamanahkan oleh
kurikulum di Indonesia.

Mimbar Sekolah Dasar, Volume 2 Nomor 1 April 2015
[5]
Keadaan yang ironis terjadi, karena di satu
sisi kemampuan berpikir kritis peserta didik
sangat penting untuk dimiliki dan
dikembangkan, akan tetapi di sisi lain
ternyata kemampuan berpikir kritis peserta
didik tersebut masih kurang. Hal ini dapat
dilihat dari hasil studi pendahuluan yang
dilakukan oleh Maulana (2007) selama
beberapa semester terhadap mahasiswa
program D-2 dan S-1 PGSD yang memiliki
background pendidikan terakhir sangat
beragam. Mahasiswa tersebut berasal dari
SMA, SMK, MA, dan SPG (khusus pada
kelas lanjutan dan dualmodes). Adapun
program studi yang mereka ambil adalah
IPA, Bahasa, IPS, Manajemen, dan Teknik.
Jika mahasiswa tersebut dikelompokkan
menjadi kelompok besar, maka terdapat
dua kelompok besar yakni mahasiswa
yang berlatar belakang IPA dan NON-IPA.
Dalam studi pendahuluan yang telah
dilakukan, diberikan tes kemampuan
berpikir kritis dengan hasilnya bernilai rata-
rata kurang dari 50% dari skor maksimal
untuk kedua kelompok tersebut (Maulana,
2007; Maulana, 2011).
Semua informasi yang ditemukan di
lapangan tersebutmengenai rendahnya
kemampuan berpikir kritis matematis
mahasiswa calon guru, khususnya PGSD
tidak selayaknya dibiarkan begitu saja.
Akan tetapi, perlu kiranya dilakukan
sebuah upaya untuk menindaklanjutinya
dalam rangka perbaikan, salah satu
alternatifnya adalah dengan menerapkan
suatu strategi dan pendekatan
pembelajaran yang lebih inovatif. Dalam
hal ini Ausubel (Ruseffendi, 1992)
menyarankan agar sebaiknya digunakan
pendekatan yang menggunakan metode
pemecahan masalah, inkuiri, dan metode
belajar yang menumbuhkembangkan
kemampuan berpikir kritis.
Seiring dengan kemampuan berpikir kritis
yang harus dikembangkan, maka tak
lepas dari ketiga kemampuan tersebut
ada disposisi matematis yang harus turut
ditumbuhkembangkan secara bersamaan
pula. Dalam pembelajaran matematika,
pembinaan komponen ranah afektif
semacam disposisi matematis
(mathematical disposition) akan
membentuk keinginan, kesadaran,
dedikasi dan kecenderungan yang kuat
pada diri peserta didik untuk berpikir dan
berbuat secara matematis dengan cara
yang positif dan didasari dengan iman,
taqwa, dan ahlak mulia (Sumarmo, 2011).
Pengertian disposisi matematis seperti di
atas pada dasarnya sejalan dengan
makna yang terkandung dalam
pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Dengan demikian pengembangan
budaya dan karakter, kemampuan
berpikir dan disposisi matematis pada
dasarnya dapat ditumbuhkan pada diri
peserta didik secara bersama-sama.
Disposisi matematis yang berkaitan
dengan kemampuan berpikir kritis, dalam
hal ini diistilahkan sebagai disposisi kritis.
Ketika seseorang sedang melakukan
aktivtas berpikir kritis, maka “aku” atau
pribadi orang itu memegang peranan

Citations
More filters

DOI
30 Dec 2017
Abstract: Kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis merupakan sebuah tujuan pembelajaran yang penting untuk dikembangkan di Sekolah Dasar. Namun, fakta dilapangan menunjukkan masih rendahnya kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya sebuah intervensi, atau upaya perbaikan dengan bantuan pembelajaran Problem-Centered Learning. Pendekatan ini merupakan sebuah kegiatan yang menjadikan masalah sebagai kegiatan yang dikerjakan siswa. Tujuannya, untuk melihat pengaruh dari pembelajaran Problem-Centered Learning . Yang menjadi subjek penelitian adalah seluruh siswa di kecamatan Darmaraja. Sampel yang diambil adalah SDN Kebonbuah dan SDN Pataruman. Instrumen yang digunakan adalah soal tes kemampuan pemecahan masalah,.angket.disposisi.matematis, .format observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian pendekatan Problem-Centered Learning berpengaruh secara signifikan pada kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis.

3 citations


Cites background from "Interaksi pbl-murder, minat penjuru..."

  • ...Menurut Maulana (2015) pembelajaran harus bermakna, siswa turut serta dalam kegiatan belajar supaya memahami secara kesulurahan konsep pembelajaran....

    [...]

  • ...Dengan demikian, dapat dibuktikan bahwa pendekatan konvensional dapat meningkatkan disposisi matematis siswa (Maulana, 2015)....

    [...]


DOI
30 Dec 2017
Abstract: The research placed at V grade at comparison material. Population of this research is whole of elementary school in Paseh Subdistrict, Sumedang, then the sample of population is Cijambe 2 elementary school as exsperiment class and Sidaraja elementary school as control class. The goals of this research is to knowing the effect from contextual approach with coper media support to mathematical understanding ability and study motivation, and for knowing rhe correlation between mathematical understanding ability with study motivation. This research use experiment method that compared the experiment class with control class, which have different treatment. Based on the data, it describe that contextual approach with coper media support could give more effect to mathematical understanding ability, meanwhile at study motivation contextual approach with coper media support can’t give more effect. Then, we can know that mathematical understanding ability and study motivation have strong correlation.

2 citations


DOI
30 Dec 2017
Abstract: Kemampuan representasi matematis merupakan kemampuan yang masih rendah. Kemampuan ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang inovatif. Salahsatu pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa adalah pendekatan kontekstual berstrategi relating, experiencing, applying, cooperating, transferring (REACT). Metode dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan desain nonequivalent control group design . Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IV SD se-Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang yang sekolahnya berada pada kelompok sedang. Sementara, sampelnya adalah siswa kelas IV SDN Cigadog II sebagai kelas eksperimen dan SDN Cisalak III sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa soal tes kemampuan representasi matematis, skala sikap, lembar observasi kinerja guru, lembar observasi aktivitas siswa, dan wawancara dengan siswa. Hasil penelitian dengan taraf signifikansi α = 0,05 menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual berstrategi REACT lebih baik secara signifikan daripada pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa. Selain itu, respon siswa terhadap pembelajaran kontekstual berstrategi REACT sangat positif.

2 citations


Cites background from "Interaksi pbl-murder, minat penjuru..."

  • ...Desain dalam penelitian ini yaitu nonequivalent control group design (Maulana, 2015)....

    [...]


DOI
30 Dec 2017
Abstract: This research purpose to prove Problem-Based Learning (PBL) approach better than conventional approach in improving problemz solving abilityz and mathematical disposition ofz students, and how is relation between problemz solving abilityz and mathematical disposition. This research method is quasi experimental, with the nonequivalent controlz group design. The populationz is the fourth graders ofz elementary school in Cimalaka sub-district the school is in the superior group, with a sampel fourth grade students of SDN Margamukti as the experimental class and the fourth grade students of SDN Cimalaka III as the control class. The instrumentss used in this research are test and nontest instruments. The result of research with significance level α = 0,05 indicates that learning with Problem-Based Learning (PBL) approach is significantly better than conventional learning in improving problem solving ability and mathematical disposition of student. Theres is a positive relationship between problem solving abilities and mathematical disposition of students.

2 citations


DOI
30 Dec 2017
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pendekatan kontekstual berstrategi TTW dan pendekatan konvensional serta membuktikan bahwa pendekatan kontekstual berstrategi TTW lebih baik daripada pendekatan konvensional terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Metode yang digunakan yaitu kuasi eksperimen dengan desain the nonequivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IV SD se-kecamatan Cisarua. Sementara sampelnya adalah siswa kelas IV SDN Cisalak IV sebagai kelas eksperimen dan Cisalak II sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan pemecahan masalah matematis, lembar observasi aktivitas siswa dan kinerja guru, angket dan wawancara. Hasil penelitian dengan taraf signifikansi = 0,05 menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual berstrategi TTW dan pendekatan konvensional memberikan pengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa serta pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual berstrategi TTW lebih baik secara signifikan daripada pendekatan konvensional terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

1 citations


References
More filters

DOI
30 Dec 2017
Abstract: Kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis merupakan sebuah tujuan pembelajaran yang penting untuk dikembangkan di Sekolah Dasar. Namun, fakta dilapangan menunjukkan masih rendahnya kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya sebuah intervensi, atau upaya perbaikan dengan bantuan pembelajaran Problem-Centered Learning. Pendekatan ini merupakan sebuah kegiatan yang menjadikan masalah sebagai kegiatan yang dikerjakan siswa. Tujuannya, untuk melihat pengaruh dari pembelajaran Problem-Centered Learning . Yang menjadi subjek penelitian adalah seluruh siswa di kecamatan Darmaraja. Sampel yang diambil adalah SDN Kebonbuah dan SDN Pataruman. Instrumen yang digunakan adalah soal tes kemampuan pemecahan masalah,.angket.disposisi.matematis, .format observasi dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian pendekatan Problem-Centered Learning berpengaruh secara signifikan pada kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis.

3 citations


DOI
30 Dec 2017
Abstract: The research placed at V grade at comparison material. Population of this research is whole of elementary school in Paseh Subdistrict, Sumedang, then the sample of population is Cijambe 2 elementary school as exsperiment class and Sidaraja elementary school as control class. The goals of this research is to knowing the effect from contextual approach with coper media support to mathematical understanding ability and study motivation, and for knowing rhe correlation between mathematical understanding ability with study motivation. This research use experiment method that compared the experiment class with control class, which have different treatment. Based on the data, it describe that contextual approach with coper media support could give more effect to mathematical understanding ability, meanwhile at study motivation contextual approach with coper media support can’t give more effect. Then, we can know that mathematical understanding ability and study motivation have strong correlation.

2 citations


DOI
30 Dec 2017
Abstract: Kemampuan representasi matematis merupakan kemampuan yang masih rendah. Kemampuan ini dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang inovatif. Salahsatu pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa adalah pendekatan kontekstual berstrategi relating, experiencing, applying, cooperating, transferring (REACT). Metode dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan desain nonequivalent control group design . Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IV SD se-Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang yang sekolahnya berada pada kelompok sedang. Sementara, sampelnya adalah siswa kelas IV SDN Cigadog II sebagai kelas eksperimen dan SDN Cisalak III sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa soal tes kemampuan representasi matematis, skala sikap, lembar observasi kinerja guru, lembar observasi aktivitas siswa, dan wawancara dengan siswa. Hasil penelitian dengan taraf signifikansi α = 0,05 menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual berstrategi REACT lebih baik secara signifikan daripada pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa. Selain itu, respon siswa terhadap pembelajaran kontekstual berstrategi REACT sangat positif.

2 citations


DOI
30 Dec 2017
Abstract: This research purpose to prove Problem-Based Learning (PBL) approach better than conventional approach in improving problemz solving abilityz and mathematical disposition ofz students, and how is relation between problemz solving abilityz and mathematical disposition. This research method is quasi experimental, with the nonequivalent controlz group design. The populationz is the fourth graders ofz elementary school in Cimalaka sub-district the school is in the superior group, with a sampel fourth grade students of SDN Margamukti as the experimental class and the fourth grade students of SDN Cimalaka III as the control class. The instrumentss used in this research are test and nontest instruments. The result of research with significance level α = 0,05 indicates that learning with Problem-Based Learning (PBL) approach is significantly better than conventional learning in improving problem solving ability and mathematical disposition of student. Theres is a positive relationship between problem solving abilities and mathematical disposition of students.

2 citations


DOI
30 Dec 2017
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pendekatan kontekstual berstrategi TTW dan pendekatan konvensional serta membuktikan bahwa pendekatan kontekstual berstrategi TTW lebih baik daripada pendekatan konvensional terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Metode yang digunakan yaitu kuasi eksperimen dengan desain the nonequivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswa kelas IV SD se-kecamatan Cisarua. Sementara sampelnya adalah siswa kelas IV SDN Cisalak IV sebagai kelas eksperimen dan Cisalak II sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan pemecahan masalah matematis, lembar observasi aktivitas siswa dan kinerja guru, angket dan wawancara. Hasil penelitian dengan taraf signifikansi = 0,05 menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual berstrategi TTW dan pendekatan konvensional memberikan pengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa serta pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual berstrategi TTW lebih baik secara signifikan daripada pendekatan konvensional terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

1 citations